2016

Tahun 2015 telah kita lewati. Tiap orang pastilah memiliki kesan terhadap tahun yang telah berlalu. Kalau dirangkum pasti akan terangkum dua hal besar, sedih dan gembira. Cara pandang pribadilah yang nantinya akan menjadi pembeda. Pribadi positif  bisa menjadikan kesedihan sebagai pembelajaran. Menjadikan kesenangan sebagai bentuk rasa syukur. Sedangkan pribadi negatif akan larut dalam kedukaan dan jumawa dengan  kesuksesan yang direngkuh.

Tahun 2015 adalah tahun gejolak didunia ekonomi khususnya sektor komoditas. Harga minyak turun serendah rendahnya. Harga batubara setali tiga uang. Turunnya harga batubara bahkan sudah mendahului harga minyak. Diakhir tahun 2012, dalam terbitan majalah coal asia, TP Rachmat patron dunia pertambangan sudah memprediksi bahwa mulai tahun 2013 pebisnis batubara akan menghadapi turbulence yang hebat. Dia benar, memasuki tahun 2013 sampai dengan kini harga komoditas batu hitam terus merosot. Harga terkini sudah menyentuh rock bottom price. 

Belajar dari prediksi TP Rachmat, mendengar atau membaca dari para guru bisnis adalah sebuah keharusan. Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang terjadi kedepan, kita hanya tahu gejala gejalanya berdasarkan analisa kekinian. Bagi pribadi positif, krisis adalah masa masa emas untuk bekerja. Krisis mendobrak zona kenyamanan. Kreativitas karena kepepet muncul lagi. 
Tahun 2015 adalah tahun yang penuh dengan goncangan politik. Indonesia yang terdiri dari banyak partai menjadi panggung akrobat para politisi. Konflik KPK vs Polri diawal tahun dan kasus “Papa minta saham” yang menyeret Setya Novanto menjadi headline utama tahun 2015. Seluruh kisruh politik ini syukurnya berjalan secara pararel dengan percepatan pembangunan proyek infrastruktur yang dikawal Jokowi. Jika belanja APBN tidak optimal ditengah lesunya ekonomi global, maka niscaya Indonesia bisa terjerembab dalam krisis ekonomi. Di akhir tahun, poros partai oposisi pemerintahan telah melemah. Partai PAN, PKS dan Golkar yang sebelumnya menyatakan diri sebagai partau oposisi, sudah tidak malu untuk merapat kepada pemerintah. Kini yang tertinggal adalah para haters jokowi disosial media yang gigit jari.

Tahun 2016 adalah tahun harapan. Apapun yang terjadi ditahun 2015 adalah pembelajaran untuk menatap setahun kedepan. Optimisme mesti digelorakan. Sikap positif mesti ditebarkan. Kesuksesan tidak akan menghampiri pribadi dengan sikap negatif. Sukses adalah hak bagi para petarung yang penuh optimisme dan semangat positif. Selamat datang 2016! 

January 11, 2016 at 3:02 am Leave a comment

E KTP

   
Sudahkah anda mengurus E KTP? Saya sudah memiliki KTP Jakarta tapi belum yang berlabel E. Jangankan E, KTP saya bahkan masih katagori jadul. Terbuat dari kertas print dan dilaminating. 

Sebulan yang lalu saya mendapatkan surat panggilan dari kelurahan. Surat tersebut meminta  untuk melakukan proses pembuatan E-KTP di kelurahan. Batas waktunya adalah 31 Desember 2015. Mendekati batas waktu saya baru merasakan urgensi untuk segera mengurus E-KTP. Ditambah dengan urgensi kalau E-KTP sudah terhubungkan dengan proses administrasi yang lainnya. Salah satu yang saya sudah alami adalah memperpanjang STNK kendaraan bermotor. Kedepan sudah  seharusnya  semuanya terkoneksi dengan E-KTP seperti pengurusan pasport,  pembukaan rekening bank dan pajak. 

Mengurus E-KTP ternyata mesti melewati perjuangan. Antrian di Kelurahan Kalibata  Jakarta Selatan sudah mengular. Bisa dipastikan karena semua mengejar tenggat waktu yang ditetapkan kelurahan. Satu hal yang membuat nyaman adalah adanya  kejelasan dalam proses antrian. Kali ini kelurahan sudah menerapkan loket antrian seperti di bank. Ada penjaga loket yang digawangi para anak muda staf kelurahan. Yang pasti tidak ada lagi calo yang berkeliaran. Semua tertib antri. Saat ini kantor kelurahan Kalibata sedang direnovasi, gedung yang dipakai adalah gedung kontrakan sementara. Kedepan seharusnya pelayanan bisa lebih nyaman lagi dengan adanya gedung baru. Ada optimisme yang besar dari jargon jargon yang terpampang di spanduk. Semoga bisa terwujud karena rakyat sangat membutuhkan pelayanan yang bersahabat. 

 

December 30, 2015 at 12:47 am Leave a comment

Krisis 

Sekarang ini hampir semua media membahas mengenai krisis ekonomi. Saya mendengar disatu stasiun radio pembahasan yang cukup menyita perhatian tentang krisis ekonomi Indonesia. Penyiar radio mewawancarai seseorang tentang krisis 2015 dibandingkan dengan krisis 1998. Dia menyampaikan kalau krisis kini lebih parah dibanding krisis 1998 karena krisis kali ini menggasak sektor riil sedangkan krisis 1998 hanya menghancurkan perbankan.

Cukup mengagetkan juga pernyataan yang disampaikan tersebut. Kejadian 1998 bagi saya rasanya belum lama berlalu. Saat itu saya masih dibangku kuliah semester 4. Ikut melakukan demonstrasi ke gedung MPR. Ikut juga menjadi saksi kelamnya Indonesia pasca 1998. Hampir setahun ekonomi lumpuh total. Sosial politik carut marut. Harapan akan Indonesia rasanya sirna. Pasca 1998 kerusuhan horisontal meledak diberbagai daerah. Pembantaian atas sesama saudara terjadi tidak berprikemanusiaan. Poso, Sampit, Ambon, Aceh dan lepasnya timor timor menjadi catatan kelam efek 98. Belum lagi ledakan bom diberbagai titik yang menggerus kepercayaan publik dalam dan luar negeri akan keamanan Indonesia.

Kita mundur begitu jauh saat itu karena kehilangan kepercayaan akan hal mendasar  yaitu keamanan hidup. Sudah pasti ekonomi juga ikut hancur karena jaminan keamanan yang lemah saat itu. 

17 tahun berlalu, berani menyebut diri dalam kondisi krisis yang lebih parah dari 98 adalah pemikiran yang aneh. Kondisi disegala aspek sangat jauh berseda. Kini Indonesia telah memiliki pondasi sistem negara yang jauh lebih baik.  Demokrasi Indonesia adalah kini adalah berkah. Keamanan terjamin, TNI Polri satu komando dalam bekerja. Sistem pemerintahan khususnya pelaksanaan otonomi daerah makin membaik melalui proses ujicoba dan perbaikan. 

Memang harus diakui perlambatan ekonomi terasa. Sektor komoditas sebagai penarik gerbong ekonomi RI sedang terpukul sebagai akibat perlambatan ekonomi global. Satu hal yang menjadi pelajaran bagi kita adalah ternyata selama ini negara terlalu bergantung pada satu sektor ini. Uang yang dihasilkan dari komoditas tidak diubah menjadi belanja modal infrastruktur dasar yang akan menjadi penyelamat disaat harga harga komoditas sedang loyo.

Sudah selayaknya kita bersikap waspada akan krisis. Sudah menjadi keharusan kita selalu bersiap akan datangnya krisis. Terlepas dari efek buruk akibat krisis 1998, sebagian orang yang siap mendapatkan keuntungan dari kondisi krisis yang terjadi. Siapa tahu kali ini kita yang mendapatkan hoki tersebut. 

September 5, 2015 at 11:39 am 1 comment

Pertengkaran ke…

Pertengkaran keluarga adalah zero sum game.
Yang kalah hancur yang menang juga hancur.
Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang iri hati dan dengki
(12/01/14)

January 12, 2014 at 1:58 am Leave a comment

TAHUN POLITIK

Lima tahun lalu, suara saya berikan kepada partai dan presiden berlambang mercy. Hasilnya adalah, saya membeli mobil mercy dengan onderdil avanza. Kecewa berat karena penampakannya saja yang bagus diawal, ternyata dijalan tersandung sandung akan berbagai kasus korupsi. Saya memiliki keyakinan para pembeli mobil mercy seperti saya akan mencari kendaraan baru yang lebih menjanjikan harapan perubahan.

Continue Reading January 10, 2014 at 8:35 am Leave a comment

METATAH

Saya pulang ke Bali untuk menghadiri acara Metatah (upaca potong gigi) keluarga dari Ibu. Kali ini yang metatah 16 orang  sepupu dan beberapa ternyata masih level ponakan. Metatah sering mengambil momen bersamaan dengan acara manusia yadnya lainnya. Momen yang diambil untuk acara kali ini adalah pernikahan saudara sepupu Opan dan Elly.  

Saya telah metatah lima tahun yang lalu. Saya merasakan kesan simbolis yang kuat sekali atas acara ini. Gigi saya saat itu tidak banyak dikikir apalagi dipotong. Itu sudah saya pesankan kepada tukang “tatah” yang dikenal sebagai sangging. Saya tidak kuat akan ngilu yang terasa jika gigi dikikir khususnya gigi taring. Setelah acara metatah, siapapun diharapkan bisa menjalani hidup sebaik baiknya. Potong gigi adalah simbolis dari memusnahkan sifat sifat binatang yang ada dalam diri. Mulai sejak selesai metatah jadilah manusia dewasa sejati. 

Saya cukup terkejut akan perkembangan tingkat kedewasaan anak anak masa kini. Salah satu peserta acara metatah masih cukup muda. Kelas 5 sekolah dasar sudah memasuki masa puber (sudah haid). Apakah ini memang fenomena khusus atau sudah berlaku umum. Apa yang saya baca di national geographic tentang pubertas anak anak di Amerika yang kian tahun kian muda ternyata terjadi juga di Bali. Makanan sebagai pemicu utama akan perkembangan hormonal ternyata telah berimbas sampai ke Bali. 

Disela sela mengikuti rangkaian acara, saya berbincang bincang dengan salah seorang keluarga yang berprofesi sebagai petani. Kami bicara ngalor ngidul. Mulai dari tema para calon DPR yang mulai turun kedesa sampai kualitas tanah perhatian yang sudah rusak. Dari sini saya bisa menyerap informasi bahwa seluruh produk pertanian harus dipupuk kimia atau di semprot kimia. Jika tidak, sudah sangat mustahil bisa panen. Sayur sayuran seperti kacang panjang, sayur hijau, brokoli dan yang lainnya, mulai dari penanaman sampai panen harus dijaga dengan pupuk dan semprotan kimia agar terhindar dari gulma dan hama. Efeknya adalah kandungan kimia yang begitu besar dalam produk produk pertanian. Petanipun ternyata takut memakan sayuran yang ditanamnya sendiri. Sungguh menghawatirkan. Kenapa tidak beralih ke pupuk organik seperti masa lalu ?. Ternyata kalau beralih ke pupuk organik, untuk kurun waktu tertentu, hasil panen akan gagal total karena tanah sudah terbiasa dengan pupuk kimia. Perlu waktu, sedangkan kebutuhan perut petani tidak bisa diajak menunggu. Inilah salah satu peran pemerintah yang ditunggu. 

January 8, 2014 at 9:56 am Leave a comment

Kabel

Bayangkan seandainya kabel tidak lagi ada yang melintang  di udara kota Jakarta. Seluruh kabel baik untuk listrik dan  telekomunikasi diposisikan di bawah tanah. Tersusun didalam drainase kota dengan rapi. Saya yakin, hidup kita akan lebih lega. Kabel kabel itu begitu mengintimidasi pandangan. Saking banyaknya jumlah kabel yang melintang diudara, menjadikan seluruh pandangan terasa penuh oleh benda hitam memanjang. Dibeberapa tempat, kabel kabel bahkan saling berebutan tempat dengan pepohonan. Waktu kecil saya juga benci kabel udara, mereka menjadi penghalang keasikan anak anak bermain layang layang.

Kabel ini saya jadikan penanda maju tidaknya sebuah kawasan. Di Lippo Karawaci, seluruh kabel melintas di bawah tanah. Tak ayal, pemandangan dikawasan ini jadi lebih indah. Jakarta sebagai ibu kota negara,  penataan kabel masih sangat parah. Kordinasi antar pemegang kepentingan kelihatan sekali tidak singkron. Setiap hari kita melihat pekerja yang melakukan penarikan bentangan kabel kabel baru di jalan raya.  Tidak mau kalah, jalan raya ibukota juga setiap hari digali untuk penanaman kabel fiber optic dan utilitas air bersih.

Membayangkan kalau kabel kabel itu tidak ada di udara Jakarta saja sudah membuat hati senang, apalagi memang telah menjadi kenyataan.  Kita patut acungi jempol atas kebijakan Gubernur DKI mengatur ulang papan reklame. Dengan dikuranginya papan papan reklame, pohon pohon mulai terlihat, keindahan arsitektur gedung yang tertutup wajah wajah para model juga mulai tampak.
Memang sudah tugasnya pemerintah memberi kenyamanan bagi warganya. Sebagai warga Jakarta, saya sangat berharap pandangan udara yang lapang, bisa melihat pepohonan ditengah kota yang menghijau. Syukur syukur ada aneka bunga bermekaran dan burung burung yang berterbangan seperti di Orchard Road Singapura.

 

September 12, 2013 at 11:01 am Leave a comment

Older Posts


Categories

December 2016
M T W T F S S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 21,649 hits