Krisis 

September 5, 2015 at 11:39 am 1 comment

Sekarang ini hampir semua media membahas mengenai krisis ekonomi. Saya mendengar disatu stasiun radio pembahasan yang cukup menyita perhatian tentang krisis ekonomi Indonesia. Penyiar radio mewawancarai seseorang tentang krisis 2015 dibandingkan dengan krisis 1998. Dia menyampaikan kalau krisis kini lebih parah dibanding krisis 1998 karena krisis kali ini menggasak sektor riil sedangkan krisis 1998 hanya menghancurkan perbankan.

Cukup mengagetkan juga pernyataan yang disampaikan tersebut. Kejadian 1998 bagi saya rasanya belum lama berlalu. Saat itu saya masih dibangku kuliah semester 4. Ikut melakukan demonstrasi ke gedung MPR. Ikut juga menjadi saksi kelamnya Indonesia pasca 1998. Hampir setahun ekonomi lumpuh total. Sosial politik carut marut. Harapan akan Indonesia rasanya sirna. Pasca 1998 kerusuhan horisontal meledak diberbagai daerah. Pembantaian atas sesama saudara terjadi tidak berprikemanusiaan. Poso, Sampit, Ambon, Aceh dan lepasnya timor timor menjadi catatan kelam efek 98. Belum lagi ledakan bom diberbagai titik yang menggerus kepercayaan publik dalam dan luar negeri akan keamanan Indonesia.

Kita mundur begitu jauh saat itu karena kehilangan kepercayaan akan hal mendasar  yaitu keamanan hidup. Sudah pasti ekonomi juga ikut hancur karena jaminan keamanan yang lemah saat itu. 

17 tahun berlalu, berani menyebut diri dalam kondisi krisis yang lebih parah dari 98 adalah pemikiran yang aneh. Kondisi disegala aspek sangat jauh berseda. Kini Indonesia telah memiliki pondasi sistem negara yang jauh lebih baik.  Demokrasi Indonesia adalah kini adalah berkah. Keamanan terjamin, TNI Polri satu komando dalam bekerja. Sistem pemerintahan khususnya pelaksanaan otonomi daerah makin membaik melalui proses ujicoba dan perbaikan. 

Memang harus diakui perlambatan ekonomi terasa. Sektor komoditas sebagai penarik gerbong ekonomi RI sedang terpukul sebagai akibat perlambatan ekonomi global. Satu hal yang menjadi pelajaran bagi kita adalah ternyata selama ini negara terlalu bergantung pada satu sektor ini. Uang yang dihasilkan dari komoditas tidak diubah menjadi belanja modal infrastruktur dasar yang akan menjadi penyelamat disaat harga harga komoditas sedang loyo.

Sudah selayaknya kita bersikap waspada akan krisis. Sudah menjadi keharusan kita selalu bersiap akan datangnya krisis. Terlepas dari efek buruk akibat krisis 1998, sebagian orang yang siap mendapatkan keuntungan dari kondisi krisis yang terjadi. Siapa tahu kali ini kita yang mendapatkan hoki tersebut. 

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Pertengkaran ke… E KTP

1 Comment Add your own

  • 1. nanangrusmana  |  September 7, 2015 at 2:45 pm

    Benar mas Komang Adi, sekarang banyak pengamat yang terlalu lebay menilai situasi. Bagaimana mungkin saat ini terjadi krisis lebih parah dari 98? tiket Bon Jovi saja masih laku terjual? pameran motor show saja masih terjadi transaksi besar? ……

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

September 2015
M T W T F S S
« Jan   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: