Membonceng Sepakbola

April 6, 2011 at 1:54 am Leave a comment

Piala Dunia 2014, ajang kompetisi sepakbola paling akbar akan berlangsung di Brazil. Kenapa Brazil yang dipilih sebagai tuan rumah, semestinya tidak perlu kita tanyakan lagi. Negara ini memiliki sejarah panjang di dunia sepakbola. Brazil adalah negaranya Pele, Romario, Ronaldo, Kaka, Pato. Beberapa dari banyak  talenta sepakbola yang telah memberi hiburan bagi dunia. Menuju 2014, seluruh dunia menggenjot persiapan tim nasional mereka. Setiap negara pasti memiliki keinginan untuk menjadi salah satu dari tiga puluh dua tim yang berlaga di ajang final piala dunia Brazil. Milyaran pasang mata akan mengarah ke Brazil saat itu. Ratusan juta pasang mata berasal dari Indonesia. Negeri yang ratusan juta rakyatnya sangat mencintai sepakbola.

Saking cintanya akan sepakbola, tapi nihil prestasi dalam berbagai ajang kompetisi internasional, rakyat Indonesia secara sukarela ikut menjadi suporter dari negara lain. Puluhan juta rakyat berjingkrak ria ketika Spanyol menjadi yang terhebat dalam piala dunia 2010 di Afrika Selatan. Puluhan juta rakyat tertunduk lesu karena mereka adalah suporter Belanda yang lagi bernasib naas dikalahkan Spanyol di partai final. Rakyat Indonesia yang mencintai permainan Wesley Sneijder, Dirk Kyut, Van Der Va art, berduka seolah Belanda adalah negara kelahiran mereka. Tidak ada lagi sentimen negatif apapun yang tersisa kepada Belanda sebagai negara yang pernah tiga setengah abad menjajah Indonesia.

Itulah daya magis dari sepakbola. Memiliki kekuatan pemersatu tanpa kenal batasan negara. Pendukung kesebelasan Belanda bukan hanya rakyat Belada, mereka didukung oleh rakyat dari berbagai negara yang mencintai keindahan permainan yang diperagakan oleh Tim Oranye. Sebagai kekuatan pemersatu milyaran penduduk dunia, ajang Piala Dunia telah menjadi industri yang bisnis yang sangat menjanjikan. Menuju 2014, stasiun TV berlomba lomba merebut hak siaran. Produk-produk komersiil papan atas ikut berkompetisi agar bisa mengasosiasikan dirinya dengan Piala Dunia. Kolaborasi sepakbola dengan dunia bisnis telah terbukti menghasilkan keuntungan yang berlimpah.  Akibat daya magisnya, semua hal yang terkait dengan sepakbola kini menjadi rebutan.

Sayangnya, republik dengan ratusan juta rakyat pecandu sepakbola yang bernama Indonesia bukannya rebutan prestasi, malahan berebut kursi ketua PSSI. Beberapa bulan terakhir ini, pecandu bola Indonesia disuguhi tontonan menggelikan dari para elit politik yang mengatasnamakan rakyat pencinta sepakbola Indonesia. Mereka tidak ada rasa malu sedikitpun mempertotonkan berbagai aksi kekerasan demi jabatan Ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Semua mungkin sudah paham, tahun 2014 akan menjadi tahun politik di Indonesia. Bersamaan dengan final Piala Dunia di Brazil, para politisi Indonesia juga akan berkompetisi merebut simpati rakyat agar bisa terpillih sebagai anggota legislatif dan eksekutif. Sangat besar kemungkinan, stasiun TV akan kebanjiran iklan profile diri dari para elit politik saat piala dunia berlangsung. Para kandidat DPR dan presiden akan berlomba lomba mengasosiasikan dirinya dengan sepakbola. Mulai dari piala dunia, liga nasional sampai kompetisi tarkam pasti akan semarak oleh kehadiran politisi.Seorang politisi papan atas bahkan sudah memulai aksinya dengan menjadi komentator sepakbola dadakan saat turnamen suzuki AFC berlangsung. Hipnotis piala dunia akan bisa membuat rakyat Indonesia melupakan hal lain diluar sepakbola. Dalam beberapa piala dunia lalu, semua tema tersapu bersih oleh sepakbola. Koran akan laris jika headline beritanya menampilkan gambar aksi seru dari para pemain bola dunia. Potensi ini tentunya tidak lepas dari ketajaman analisa para polisi kita. Maka untuk itu, sepakbola Indonesia yang terlembaga dalam PSSI harus direbut.

Apapun dalih para elit yang terucap ke masyarakat, sangat jelas saat ini kekuatan politik telah dan ingin membonceng sepakbola Indonesia. Mulai dari demonstrasi yang tidak pernah berhenti di  kantor PSSI. Debat kusir mengenai pasal pasal dalam statuta PSSI. Statuta FIFA yang dipelintir antara versi asli dan terjemahan Indonesia. Hak suara dalam kongres yang tidak transparan. Semuanya  hampir sama dengan kisruh yang terjadi di organisasi politik. Saking kuatnya efek kisruh di tubuh PSSI, sampai sampai FIFA harus turun tangan sebagai penengah. Ratusan juta pencinta bola Indonesia nasibnya sekarang sama dengan Kenya. Negara berpenduduk 38 juta yang juga mengalami kisruh di tubuh lembaga sepakbolanya.   

Kisruh ini adalah titik nadir dari kelamya perjalanan dunia sepakbola Indonesia. Atmosfer yang menaungi sepakbola kita saat ini sudah hampir sama dengan carut marut dalam dunia perpollitikan. Bangsa ini kehilangan tempat pelarian yang sempat dimiliki dari penatnya situasi permasalahan bangsa. Kitapernah bersatu padu sebagai satu negeri ketika gol gol cantik dari Irfan Bachdim dan Cristiano Gonzales dilesakkan ke gawang lawan saat AFC turnamen berlangsung. Kalau bicara prestasi tanpa pakai ribut ribut, timnas 1987 patut dijadikan tauladan. Indonesia begitu disegani di kancah Asia Tenggara, dengan pemain pemain besar semacam Roby Darwis, Herry Kiswaanto, Ricky Yakobi, Rully Nere, Ribut Waidi  dan Nasru Koto. Mereka adalah pahlawan sejati bagi sepakbola Indonesia. Mereka terpatri dihati sanubari dengan aksi, bukan janji.

Seorang kawan, rakyat bisa penggila bola seperti kita, juga punya mimpi menjadi ketua umum PSSI. Obsesi ini merupakani pencapaian paling tinggi yang ingin digapainya. Profil singkatnya kurang lebih  sebagai berikut; Dia gila maen bola dengan posisi  bertahan, dia maniak nonton bola berbagai liga termasuk liga Indonesia sampai divisi utama, dia hapal hampir seluruh pemain bola dunia maupun Indonesia, Sabtu-Minggu adalah hari hari spesialnya karena penuh dengan tayangan bola, dia selalu menonton langsung pertandingan bola ke stadion, kecerdasan intelegensia diatas rata-rata, dia masih muda, idealis, jujur,  yang paling pasti dia tidak akan jadikan ketua PSSI sebagai batu loncatan  politik. Semoga ada yang berminat melamarnya menjadi kandidat ketua PSSI.

(6 April 2010. Real Madrid 4 – 0 Tottenham Hotspur)

Entry filed under: Sepakbola. Tags: , , , , , , .

Komang Arya Tridarma Yang Saya Kenal Gerakan Ekonomi Peradah di Bromo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

April 2011
M T W T F S S
« Mar   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: