Komang Arya Tridarma Yang Saya Kenal

April 4, 2011 at 3:41 am 1 comment

Tanggal 21 Maret 2011, dalam perjalanan menuju Grha Sinergi Peradah, Tebet dari kantor di Mega Kuningan, saya menerima telpon dari Corina, adik kelas di SMA Taruna Nusantara. Jarang jarang Corina telpon saya tengah hari, jam 11 an seperti ini, pasti ada yang spesial. Ternyata benar, dia memberi informasi yang super spesial. “Abang sudah denger berita belum kalau Bang Komang Arya meninggal siang ini”. Lontaran ucapan kalimat pendek dari Corina tersebut saya langsung respon dengan seruan, “Tidak mungkin”. Bagaimana mungkin, wong pagi tadi saya masih terima pesan dari Komang Arya melalui BBM. Sampai di Grha Sinergi Peradah saya cross cek informasi. Saya cek informasi di milist alumni, sudah puluhan email yang mengabarkan kepergian Komang Arya. Saya masih belum percaya, saya anggap (berharap) berita ini hoax. Pukul 12 saya menerima kabar dari Ketua Peradah Bali dari rumah sakit Bali Royal Hospital kalau Komang Arya Tridarma memang benar telah berpulang.

Tiga bulan terakhir sebelum berpulangnya Komang Arya, hubungan kami begitu dekat. Diawali pertemuan kami pada tanggal 10 Januari 2011, di restoran Be Tutu Gilimanuk di Senopati. Dalam pertemuan tersebut Komang Arya bercerita kalau dia baru saja pulang dari Pura Gunung Salak. Disana Komang Arya mendapatkan pencerahan untuk berbuat sesuatu sebagai bentuk pelayanan kepada komunitas yang berbasis agama. Sebelumnya di Pura Rawamangun, kami banyak berdiskusi mengenai Peradah khsusnya Peradah Bali yang akan melakukan regenerasi dalam waktu dekat. Sebagai ketua umum Peradah Indonesia, saya memang intens mendorong berlangsungnya kaderisasi organisasi di seluruh Indonesa. Dalam pertemuan sambil makan siang ini, Komang Arya berminat untuk menggerakkan Peradah di Bali sebagai bagian dari misi ngayah (pelayanan) bagi komunitas umat Hindu dan masyarakat Bali. Pertemuan singkat ini selanjutnya sudah cukup untuk membuat seluruhnya menjadi kongkrit. Komang Arya sukses merebut simpati dari kawan kawan Peradah di Bali yang selanjutya menempatkan dia sebagai Ketua Panitia Lokasabha (Musda) Peradah Bali.  

Ikatan saya dengan Komang Arya Tridarma adalah sebagai sesama alumnus SMA Taruna Nusantara. Komang Arya adalah alumni angkatan pertama sedangkan saya adalah angkatan ke empat. Otomatis saya tidak bertemu muka dengan Komang Arya selama di SMA Taruna. Karena sama sama bersekolah di SMA Taruna saya biasa memanggilnya Bang Komang, bukan Bli Komang seperti kebiasaan kami memanggil yang lebih tua sebagai orang Bali. Di SMA Taruna Nusantara saya juga dipanggil dengan nama Komang. Nama Komang ternyata telah melegenda di SMA Taruna Nusantara yang dipopulerkan oleh Komang Arya Tridarma. Saat masih kelas satu, oleh senior senior kelas saya berulangkali mendapatkan cerita cerita tentang Komang Arya Tridarma sebaga sosok yang luar biasa khususnya dalam hal karakter kepemimpinan. Nama Komang di SMA Taruna seolah sudah terpatri sebagai milik Komang Arya Tridarma bukan Komang Adi Setiawan.

Tahun 1994, saya bertemu pertama kali dengan Bang Komang. Kami bertemu dalam sebuah acara kumpul kumpul antara siswa, orang tua dan alumni SMA Taruna saat liburan sekolah. Saat itu saya sudah kelas dua. Pertemuan tersebut berkesan karena saat itu saya mendapat teguran keras dari Bang Komang atas keterlambatan datang ketempat acara. Walaupun kena marah, saat itu saya mulai menangkap kesan bahwa abang yang satu ini penuh dengan kepedulian kepada adik adiknya. Satu hal yang dia pesankan dan hampir selalu dipesankan kalau bertemu adalah jangan bosan bosan untuk merajut tali silaturahmi. Pesan ini masih saya tetap daptkan sampai saat kami bertemu terakhir kalinya di Tebet dalam rangka menyampaikan undangan resmi acara musda Peradah Bali. Tidak bisa dipungkiri Bang Komang telah menjadi sosok yang populer diantara alumni SMA Taruna lintas angkatan. Dia bisa menjadi sosok paling senior yang mengayomi adik adiknya yang sampai saat ini sudah mencapai 4000 an alumni.

Bang Komang Arya penuh dengan idealisme. Cita citanya untuk memberi karya terbaik bagi masyarakat dengan lugas dia lakukan dan suarakan. Usia 36 tahun tidak membuyarkan idealisme akan visi Indonesia yang lebih baik. Ditengah tuntutan kehidupan yang mengharuskan kita menjadi lebih realistis, Bang Komang tetap menyuarakan semangat idealisme tersebut. Saya dan mungkin banyak dari kami akan selalu menangkap pesan tersebut dalam perbincangan akrab yang kami lakukan bersama almarhum. Idealisme untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat khususnya di Bali inilah yang mendorong kami bekerjasama di Peradah. Bali merupakan salah satu basis Peradah yang dapat dioptimalkan sebagai ajang pengabdian.

H-6 menjelang pelaksanaan Lokasabha/Musda Peradah Bali, seluruh teknis acara sudah siap. Hari itu  Bang Komang Arya selaku ketua panitia bersama dengan pengurus Peradah Bali melakukan audiensi ke Bapak Yudha Triguna selaku Dirjen Hindu di kediaman beliau di Tabanan.
H-5, Bang Komang mengirimkan pesan kepada saya,  “ Bro, punya jas Peradah lebih ga? Pinjem dunk unt acara Lokasabha ntar. Ketua Panitia masak ga pake jas J “ .  

Saya tidak pernah menyangka bahwa ini akan menjadi pesan terakhr yang saya terima dari almarhum. Kepergian Bang Komang Arya begitu cepat, sangat  mengagetkan. Mimpi mimpi yang telah kami rajut bersama untuk memberi karya terbaik bagi masyarakat  kembali berhamburan.

Peradah Indonesia mengucapkan terimakasih atas segala kontribusi yang diberikan bagi kemajuan organisasi.

Selamat jalan Bang Komang Arya , dimanapun engkau berada pasti akan bisa memberikan karya terbaik.

Entry filed under: Peradah. Tags: , , , .

Kaderisasi Harga Mati Membonceng Sepakbola

1 Comment Add your own

  • 1. Nina Firstavina  |  January 19, 2012 at 7:29 am

    Salam kenal, Komang Adi..
    Baca penuturan tentang Komang Arya, saya jadi sedih lagi. Saya malah masih ngga percaya kalau dia sudah tiada. Apalagi saya baru tahu kabar beliau sudah berpulang itu pada bulan Mei atau Juni 2011, (sekitar 2 bulan kemudian), jadi makin terpukul saja rasanya. Dulu (tahun 1990) kami pernah dekat, meski fisik berjauhan, dgn kata lain: LDR lah gitu. Meski cinta monyet kami nggak manjang (putus akhir thn 1994), dia tetap menjadi kawan baik saya.

    Saya senang membaca kisah-kisah tentang the life of Komang Arya (pre or post our relationship). Rasanya seperti mengumpulkan puzzle of memory yang berceceran di antara kami. Kalau ada cerita lagi tentang beliau, please sharing ya, Mang.. Suksma.🙂

    Salam hangat dari Jakarta.
    Nina Firstavina

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

April 2011
M T W T F S S
« Mar   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: