Kaderisasi Harga Mati

March 31, 2011 at 3:58 am Leave a comment

“Menurut Anis Matta, sekretaris jenderal, Hilmi menangis ketika peserta musyawarah nasional partai secara aklamasi memilih lagi dia menjadi Ketua Majelis Syura. Di depan peserta musyawarah, Hilmi menyatakan gagal melakukan pengaderan karena belum ada yang berani menggantikannya.”
Majalah tempo edisi Maret 2011

Sebelas Maret 2011, bertepatan dengan hari ulang tahun Peradah Indonesia yang ke-27, saya mengunjungi Yogyakarta. Kedatangan saya ke Kota Gudeg dalam rangka pelantikan pengurus Peradah DI Yogyakarta. Akhirnya, setelah vakum cukup lama terjadi juga regenerasi di kota tempat lahirnya Peradah. Semua eksponen Peradah baik yang aktif ataupun yang sudah alumnus mempertanyakan atas kevakuman yang terjadi atas Peradah DIY. Pertanyaan yang wajar karena penggiat Peradah dan aktivis Hindu yang saat ini tersebar di berbagai kota banyak sekali jebolan  Yogya. Untuk melaksanakan kaderisasi di Yogyakarta, kami selaku pengurus pusat yang berdomisili di Jakarta mesti beberapa kali mendatangi Yogya. Mendatangi para senior serta pengurus yang lagi asik mati suri.  Jakarta –Jogja tentu tidak sama dengan Jakarta Bogor. Jarak yang jauh mesti kami tempuh. Waktu, tenaga dan materi yang tidak sedikit mesti dikeluarkan demi terjadinya kaderisasi.

Itulah kaderisasi, perlu perjuangan dan pengorbanan. Saking pentingnya program ini,  semua organisasi yang berbasis masa  selalu menempatkan bidang kaderisasi sebagai prioritas. Orang orang terbaik ditempatkan untuk duduk didepartemen ini dengan harapan kaderisasi berjalan dengan lancar. Suksesnya kepengurusan organisasi  indikator utamanya adalah berjalannya kaderisasi. Proses siklus regenerasi yang tepat waktu serta munculnya pemimpin pemimpin muda baru adalah misi organisasi.

Kaderisasi adalah proses. Mau untuk berproses berarti mau untuk sabar. Dibutuhkan napas panjang agar nilai nilai organisasi bisa diterima dan mendarah daging dalam setiap kader. Sebagai organisasi nasional, Peradah hadir hampir diseluruh provinsi di Indonesia. Sejak kami dipercaya menjadi pengurus organisasi ini melalui mahasabha/munas di Medan, Desember 2009, kami telah melakukan regenerasi di 12 provinsi. Mulai dari Sulawesi Tengah, Kepulauan Riau, Jakarta, Lampung, Gorontalo, Tangerang Selatan (Banten), Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Papua, Kalimantan Barat dan yang terakhir di bulan Maret adalah provinsi Bali. Kami juga melakukan regenerasi di tubuh organisasi pemuda Hindu ASEAN dengan menyelenggarakan general assembly di Port Dickson, Malaysia. Relatif hampir setiap bulan kami harus berkunjung ke berbagai provinsi untuk menyegarkan organisasi.

Negara kita termasuk lemah dalam kaderisasi. Contoh paling gampang bisa kita lihat dalam Transisi kepemimpinan nasional. Pergantian dari satu presiden ke presiden yang lain tidak berlangsung dengan mulus. Soekarno ke Soeharto ditandai dengan pemberontakan G 30 S PKI. Soeharto ke Habibie ditandai dengan reformasi. Masih lekat di memori kita bagaimana Gus Dur menyapa masyarakat dengan celana pendek setelah  dilengserkan  dari istana.  Megawati sang pengganti, sampai saat ini masih memendam dendam setelah tergantikan oleh SBY melalui pemilihan langsung yang dianggap sudah cukup demokratis. Sampai saat ini, Indonesia bisa dikatakan  belum bisa bergerak maju. Intrik dan konflik para elit politik demikian keras mewarnai kehidupan keseharian bangsa ini. Negara ini gagal melahirkan kader kader negarawan disetiap level lapisan pemerintaahan yang siap menjadi pelayan bangsa.

Para pemimpin tua masih sibuk wara wiri menghiasi layar televisi. Mereka selalu gembar gembor mendorong agar kader yang lebih muda berani tampil memimpin bangsa ini. Tapi disisi lain mereka tetap ogah untuk iklas meninggalkan arena kekuasaan. Biasanya alasan mereka  klasik demi kepentingan bangsa, kestabilan politik dan karena rakyat menghendaki.

Saat ini pemimpin pemimpin di berbagai negara jazirah arab dan Afrika sedang ketar ketir. Kali ini, dunia mereka sedang berbalik. Pemimpin diktator yang oleh rakyat dan musuh musuhnya dulu amat menakutkan berubah menjadi ketakuatan . Diawali dari tumbangnya rezim Ben Ali di Tunisia, dilanjutkan dengan runtuhnya Hosni Mubarak setelah berkuasa 32 tahun. Dilanjutkan dengan perang saudara di Libya untuk menggulingkan rezim Moamar Khadafi yang telah berkuasa selama 45 tahun , telah membuat sasana dunia kian memanas. Indonesia mengalami kejadian yang sama tahun 1998. Setelah 32 tahun Soeharto berkuasa, akhirnya beliau harus rela meninggalkan kursi presiden secara paksa. Bapak Pembangunan ini saking asiknya berkuasa lupa untuk turun gelanggang. Kaderisasi memang terjadi, sayangnya cuma hanya sampai level menteri. Puluhan tahun Soeharto berkuasa, bangsa ini mengalami kehancuran yang masif dalam hal karakter. Korupsi merajalela. Kelakuan haram ini sudah dianggap halal.  Power tend to corrupts and absolut power corrupts absolutely. Kata kata bijak dari Lord Acton pada tahun 1887 yang kebenarannya sudah teruji oleh waktu dan kita saksikan contoh nyatanya di dunia hingga kini.

Bagaimana dengan partai politik yang menjadi satu satunya sumber kaderisasi bagi pemimpin pemerintahan  kita? Hampir seluruh partai politik di Indonesia saat ini mengalami kemerosotan citra publik yang sangat parah. Partai ternyata gagal menghasilkan kader negarawan. Hampir tiap hari kita tonton ditelevisi kader kader partai yang duduk sebagai pemimpin disidangkan dan masuk bui karena berbagai kasus kejahatan. Pemilihan langsung mengharuskan partai merebut suara sebanyak banyaknya. Kader kader instan yang dianggap populer direkrut. Partai berlomba lomba merekrut tokoh publik khususnya artis. Dilalah para artis masa kini juga kepincut oleh tawaran partai. Jadilah gedung dewan di senayan ibarat panggung pertunjukan. Para politisi pingin jadi artis, artis pingin jadi politisi. Campur sari ini telah menghasilkan dagelan dagelan seputar senayan yang kian hari kian kocak kita saksikan.  Kaderisasi instan 100% halal bagi partai politik saat ini. Hampir sama dengan mie instan yang penting cepat kenyang. Tak ada lagi yang mau berproses. Membina dari akar rumput. Menghasilkan kader kader yang telah teruji oleh waktu.

Kembali ke Yoya, apa yang salah dengan kaderisasi Peradah di Kota Gudeg sehingga vakum demikian lama?  Dalam pelantikan ini, jangan pernah terbayang ada kemegahan acara. Semua berlangsung sederhana. Duduk lesehan dengan 25 an orang berkumpul. Bahkan pengurusnyapun belum lengkap. Lebih banyak orang tuanya yang hadir untuk memberi semangat. Apakah tidak ada lagi pemuda Hindu di Yogya? Ataukah organisasi ini di Yogya tidak bekerja memberi pelayanan di basis anggota. Bagi saya, dengan regenerasi yang telah berjalan ini harapan baru sudah terang terlihat. Saya bertemu dengan 2 pemuda yang semangatnya menyala nyala. Cerdas dan penuh dengan gagasan. Mutiara ini tinggal digosok dan diberi tempat. Mereka akan segera bersinar dan memberi arti bagi tanah air ini.

Entry filed under: Management. Tags: , , , .

Tangsel Komang Arya Tridarma Yang Saya Kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

March 2011
M T W T F S S
« Nov   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: