Tantangan Menggulirkan BDDN

October 7, 2009 at 8:37 am Leave a comment

Logo BDDN“ Anak yang terlahir dari ibu bermasalah
sedikit banyak akan kena getah masalah”

Badan Dharma Dana Nasional (BDDN) diluncurkan di tengah keprihatinan umat akan eksistensi Parisada. Pecahnya Parisada yang terjadi di Bali adalah pukulan yang telak terhadap citra organisasi karena Bali merupakan barometer perkembangan Hindu di Indonesia. Terkatung-katungnya penuntasan inventarisasi asset-aset Parisada ditambah dengan lepasnya kepemilikan Media Hindu yang dikembangkan atas goodwill Parisada menambah arang yang mencoreng citra organisasi.

Setelah soft launching di Jakarta pada 16 September 2007 dan grand launching di Bali pada tanggal 3 November 2007, resmi sudah badan baru ini bertugas. Sebagai badan resmi Parisada yang bertugas sebagai pengumpul dharma dana (dana punia) umat Hindu, BDDN memiliki tantangan yang sangat berat. Tantangan pertama adalah belum familiarnya umat Hindu akan istilah dharma dana. Sebuah istilah yang tidak ada dalam mata pelajaran agama Hindu anak sekolahan. Beda sekali tingkat populernya dengan istilah dana punia yang sudah familiar di umat Hindu Bali. Kenapa tidak memakai istilah dana punia saja? Lebih disebabkan karena memperhatikan faktor istilah Hindu yang bercita rasa Nusantara. Istilah dana punia adalah istilah Bali. Perlu ada istilah baru yang menasional.

Diperlukan hampir dua tahun lamanya untuk bisa memperkenalkan istilah Dharma Dana kepada umat Hindu khususnya didaerah perkotaan. Umat yang berada di Jabodetabek dan kota-kota besar di indonesia merupakan target prioritas pertama karena mereka dari tingkat pendidikan bisa dengan lebih mudah tersentuh akan teknologi. Selama dua tahun BDDN secara konsisten berusaha menyentuh langsung umat Hindu melalu pengiriman informasi via SMS, email dan newsletter. Pertemuan langsung melalui berbagai kelompok umat khususnya di Jabodetabek dan kota-kota besar secara intensif diselenggarakan. Sudah puluhan kali aproaching one to one dilaksanakan dengan mengundang para leader di kalangan umat Hindu makan siang atau makan malam bersama. Memang dibutuhkan kesabaran dan keuletan dalam memperkenalkan produk yang baru. Terlebih produk tersebut terkait dengan keumatan yang perlu keterlibatan nilai rasa dalam menentukan level partisipasi.

Tantangan kedua adalah merubah paradigma program Parisada. Tantangan ini sangatlah berat karena paradigma program Parisada selbelum sebelumnya adalah condong kegiatan vertikal (kepada Tuhan). Jarang sekali program-program horisontal (antar sesama manusia). Paradigma program akan digeser menjadi seimbang antara program vertikal dengan program horisontal. Dharma Dana yang terkumpul di BDDN akan disalurkan kepada program-program yang sifatnya horisontal untuk menjawab langsung kebutuhan umat Hindu Nusantara.

Satu tahun pertama tak terhitung banyaknya proposal kegiatan yang peruntukannya untuk kegiatan upacara khususnya ngenteg linggih dan perbaikan pura. Berat sekali rasanya harus menolak proposal-proposal program tersebut. Dalam standard operating procedure (SOP) yang telah ditandatangani bersama dengan Parisada, telah digariskan bahwa prioritas utama program adalah untuk kegiatan kemanusiaan. Program-program yang dananya masuk dari umat melalui BDDN haruslah memiliki nilai manfaat langsung kepada umat. Untuk itulah program prioritas yang dipilih adalah memberikan beasiwa bagi mahasiswa di lima perguruan tinggi terbaik di Indonesia yaitu  UI, ITB, UGM, ITS dan IPB. Program kedua adalah memberikan asuransi kepada para pandita dan pinandita di seluruh Nusantara. Banyak yang mempertanyakan, kenapa beasiswa diberikan kepada mahasiswa di universitas, bukan kepada siswa siswa SD,  SMP atau SMA. Pilihan ini lebih didasarkan atas kepentingan pragmatis. Kita harus secepatnya memiliki kader-kader umat Hindu yang bisa dicetak menjadi pemimpin. Dengan menghasilkan pemimpin dalam satu skenario pembinaan yang terencana, maka pengembangan keumatan akan memiliki laskar-laskar muda yang handal untuk 15-20 tahun kedepan. Disamping tentunya pertimbangan keterbatasan jumlah dharma dana yang terkumpul di rekening BDDN.

Tantangan ketiga adalah membangun profesionalisme BDDN. Sudah jamak dikalangan umat Hindu akan rendahnya kepercayaan terhadap organisasinya sendiri. Banyak yang merasa telah berbuat tapi tidak mengetahui arah perkembangannya. Banyak yang telah konsisten selalu mengikuti arahan Bhisama Parisada tetapi Parisada yang dijadikan panutan justru yang tidak konsisten. Matinya program yang memiliki tujuan yang sama yaitu Dana Punia Nyepi adalah sebuah case study tentang kegagalan dalam menjaga konsistensi dan profesionalisme organisasi.

Untuk mewujudkan profesionalisme BDDN dimulai dengan membangun sistem. BDDN adalah organisasi yang digerakkan oleh sistem. Karena itu menyelesaikan standard operating procedure (SOP) secara menyeluruh adalah sebuah kewajiban. Karena belum terbiasa bekerja dengan SOP, maka diawal awal banyak yang merasa terbatasi. Ada pengurus Parisada yang protes karena tidak bisa menggunakan dana yang ada di BDDN untuk membiayai tiket pesawat dalam acara Pesamuan Agung di Kendari. Sehingga dalam internal pengurus Parisada berhembus kesan bahwa BDDN adalah otoriter. ” Kan BDDN milik Parisada, kok Parisada sendiri susah menggunakan uang miliknya sendiri”. Menghadapi statement seperti itu dibutuhkan kesabaran untuk terus menerus memberikan pemahaman akan role of the game organisasi. Memang tidak mudah mewujudkan good corporate governance. Dibutuhkan banyak pengorbanan, salahsatunya adalah korban perasaan.

Tantangan keempat adalah dalam membangun tauladan. Bangsa Indonesia dan umat Hindu khususnya adalah tergolong masyarakat tauladan. Masyarakat yang bergerak karena adanya contoh positif dari para pemimpinnya. Dalam konteks membangkitkan partisipasi berdharma dana, umat Hindu perlu sekali mendapatkan tauladan dari para pemimpin-pemimpin lembaga keumatan. Sering sekali selama menggulirkan dharma dana dikalangan instansi keumatan baik swasta maupun negeri, umat terlebih dahulu melihat pimpinannya. Gairah pimpinan akan gerakan dharma dana merupakan sinyal positif bagi suksesnya dukungan partisipasi ke BDDN.
Pekerjaan terbesar dalam menjawab tantangan ini adalah membuat seluruh pengurus BDDN membayar dharma dana. Lalu memperluas lingkaran tauladan kepada seluruh pengurus Parisada baik tingkat pusat maupun tingkat daerah. Selanjutnya lagi meningkat kepada pengurus-pengurus organisasi nasional bernafaskan Hindu.

Dibutuhkan kesabaran dan keuletan luar biasa dalam menggerakkan BDDN. Disamping itu, pemimpin BDDN mesti siap berkorban. Saat ini BDDN beruntung memiliki pimpinan yang visioner dan mau berkorban bagi organisasi. Jalan masih panjang, masih ada tahun-tahun kedepan yang menanti bagi perjalanan dan ujian terhadap konsistensi BDDN. Memang BDDN bukan dibangun untuk kepentingan jangka pendek, organisasi ini butuh nafas yang panjang demi sebuah cita-cita membangun umat Hindu yang mandiri dengan tingkat crada dan bakti tinggi.


”Anak yang gilang gemilang dan berbakti akan
memberi keharuman bagi Ibu yang telah melahirkannya”

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Piso Surit Peradah 2009-2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

October 2009
M T W T F S S
« Aug   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: