GURU

August 17, 2009 at 1:39 am Leave a comment

Kapur tulis“Mereka adalah sedikit orang yang tercipta dengan kegembiraan untuk bisa memberi tanpa mengharap untuk menerima”

Guru sangat dekat dengan kehidupan saya. Orang tua keduaduanya adalah guru. Saya pernah tinggal di asrama guru. Saya begitu familiar dengan gaya hidup guru. Ikut menikmati canda tawa dan guyonan para guru, serta mengerti apa hal hal yang membuat seorang guru hatinya terhibur.

Guru masa SMP yang begitu saya ingat bernama Pak Sirna. Beliau kepala sekolah SMP 1 Klungkung. Karena desakan beliaulah saya mendaftar untuk mengikuti test ke SMA Taruna Nusantara. Saat itu sama sekali tidak ada niat untuk melanjutkan SMA merantau ke tanah Jawa. Merantau ke Denpasarpun saat itu belum terlintas dalam pikiran. Saya berterimakasih atas dukungan dan motivasi tak kenal henti dari beliau. Karena dukungannya saya mendapatkan pendidikan lanjutan yang cukup baik di SMA Taruna.

Pak Widiono adalah guru olahraga masa SMA. Saya kenang beliau atas kecintaannya terhadap anak didik yang bergabung dalam tim sepakbola. Saat pertama kali masuk asrama di SMA Taruna, saya dibelikan sepatu sepakbola oleh beliau. Ini adalah kalipertama saya memiliki sepatu sepakbola walaupun hobi main bola sudah sejak kanak kanak.

Apa yang mereka lakukan membekas hingga kini dihati. Mereka melakukan sesuatu tanpa mengharap untuk menerima dari anak didiknya. Pak Sirna dan Pak Widi adalah salah dua diantara puluhan guru yang memberi saya pengetahuan, perhatian serta membukakan kesempatan bagi masa depan yang lebih baik.

Saat ini didunia kerja yang begitu pragmatis, kehidupan dan alam menjadi guru saya. Berbagai kegagalan, kekecewaan dan penolakan-penolakan telah memberi saya pelajaran yang tidak terlupakan. Kegagalan yang pernah dialami saat mulai berbisnis memberi pelajaran untuk lebih fokus dalam menekuni bidang usaha.  Berbagai hujatan dan penolakan yang diterima dalam pemilihan ketua Peradah tahun 2006 memberi saya keteguhan hati untuk tetap berkarya, walaupun diarena yang berbeda. Berbagai perbedaan pandangan dan konflik yang saya jalani menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi segala permasalahan.

Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak saya memiliki guru formal pertama kali. Hanya sedikit yang masih bisa saya temui hingga kini dibangku sekolah yang sama. Mereka sudah berpindah kesekolah yang lain. Ada yang sudah harus pensiun dan tidak sedikit yang almarhum.

Pada tanggal 17 Agustus 2009, merupakan hari terakhir Ayah saya mengajar di sekolah. Sejak hari itu ayah sudah resmi pensiun sebagai guru. Saatnya beliau istirahat setelah mendedikasikan diri sebagai guru sejak tahun 1979. Tiga puluh tahun sebagai pendidik dengan segala suka duka yang dialami sebagai seorang guru. Beliau berpisah dengan profesi formalnya disaat perhatian pemerintah kepada kesejahteraan para guru mulai terealisasikan.

Saya begitu bangga dengan profesi Ayah. Terkait profesinya, beliau sudah tak terhitung seringnya meminta kita agar jangan mengikuti jejak mereka. ” Gaji guru kecil, hidup akan susah”, pesan Ayah disetiap kesempatan.

(Nengah Bargawa, 1979-2009, SGO Singaraja-SPG Klungkung-SMA 3 Klungkung)

Entry filed under: non profit. Tags: , .

Air Piso Surit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

August 2009
M T W T F S S
« Apr   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: