Seabad Kebangkitan Nasional

May 22, 2008 at 2:29 pm 1 comment

Seabad kebangkitan nasional baru saja berlalu. Apakah momen bersejarah ini memiliki makna bagi seluruh rakyat Indonesia? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya paham kalau tahun ini akan menjadi seabad kebangkitan nasional dari kawan yang seorang aktivis. Sejak tahun lalu dia sudah mereka-reka desain program. Dia juga sudah membuat tagline acara “Jelang Seabad Kebangkitan Nasional”.  Sebagai aktivis dia tahu kalau menempelkan embel-embel 100 tahun kebangkitan nasional akan laku dijual.

Kawan saya seorang pekerja kantoran sangat senang dengan seabad kebangkitan nasional. Dia pikir karena momen ini dia  libur pada tanggal 20 Mei. Saking hebatnya publikasi Kebangkitan Nasional telah membuat Hari Suci Waisak seolah hilang ditelan angin.

Saya sampai sekarang berusaha mengerti apa yang dipikiran oleh Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN saat memutuskan memilih jargon untuk memaknai  seabad kebangkitan nasional. Dia memajang jargon “Hidup Adalah Perbuatan”.  Wajahnya terpampang di baliho ukuran extra large di depan Plaza Semanggi, satu halaman penuh di koran-koran, juga tidak ketinggalan video profilenya juga mengudara di stasiun-stasiun TV. Paling tidak kita bisa mengukur kalau Bapak Ketua PAN yang satu ini cukup bermodal.

Pemerintah terlihat all out untuk memberi warna dalam memaknai seabad kebangkitan nasional. Hampir seluruh saluran televisi nasional terblok oleh kegiatan pemerintah. Baru kali ini, setelah jaman orde baru tumbang kita bisa melihat keseragaman dalam isi penyiaran TV. Pak SBY dengan bergelora menyerukan slogan baru “Indonesia Bisa”. Beliau berusaha membangkitkan semangat dan keyakinan rakyat Indonesia termasuk saya bahwa kita bisa menjadi bangsa yang bermartabat. Bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya di dunia.

Ada juga yang berpikir berbeda terhadap slogan “Indonesia Bisa”. Dikarenakan sudah memasuki musim politik, orang juga sah berpikir SBY sedang berkampanye menyongsong Pilpres 2009. Slogan tidak jauh berbeda dengan “Bersama Kita Bisa”, jargon politik SBY saat memenangkan Pilpres 2004. Sebagai negara demokrasi berpikir seperti apapun adalah sah, tidak ada yang membatasi, asal jangan menjurus anarki.

Seabad kebangkitan nasional akan saya maknai dengan melakukan pekerjaan rutin saya dengan lebih baik. Lebih kreatif menciptakan peluang-peluang usaha. Dengan itu, akan makin banyak lapangan kerja bagi anak bangsa tercipta, termasuk juga lapangan kerja bagi tenaga dan vendor asing.

 

 

 

Entry filed under: Politik. Tags: .

Politik Pura-Pura PEMILIHAN KETUA IKASTARA

1 Comment Add your own

  • 1. Didik Sulistyono  |  May 30, 2008 at 5:04 am

    Kalau saya memaknai hari kebangkitan nasional sebagai ajang untuk interospeksi diri, berkaca pada diri sendiri tentang kekurangan dan kelebihan. Mempelajari peristiwa-peristiwa penting dalam hidup, mengambil makna-makna positif dalam setiap kejadian hidup yang akan membuat diri kita lebih dewasa. Kemudian berkaca kepada para pemimpin-pemimpin besar dengan semangat yang selalu menyala, tanpa kenal lelah, bangkit dari setiap keterpurukan meniti jalan menggapai mimpi. Thanks Bang Komang, tulisan-tulisannya penuh inspirasi, pikiran kita bakal makmur jika mengasup menu-menu pikiran dari Bang Komang. Saya akan menyusul Abang dari belakang. Tunggu ya..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

May 2008
M T W T F S S
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: