Ditunggu: Lahirnya Raja Podium

March 11, 2008 at 3:48 am 2 comments

Dalam acara seremonial, satu hal yang pasti selalu ada adalah pidato. Bagi yang akan berpidato, acara ini merupakan bagian yang ditunggu-tunggu karena merupakan kesempatan untuk tampil. Sedangkan bagi yang akan tapi takut berpidato, acara ini justru merupakan bencana. Seringkali perut mereka jadi mules karena menahan grogi, atau rasa tegang yang menyebabkan salah tingkah dan tidak dapat menikmati acara yang berlangsung. Bagi yang hadir sebagai pemirsa, pidato merupakan momen yang tidak ditunggu-tunggu. Seringkali isi pidato sifatnya sangat normative, seolah-olah sudah takut salah duluan. Gampang ditebak serta penuh puja dan puji.

Saat ini sudah sangat jarang ada pidato yang ditunggu-tunggu seperti layaknya orang menunggu pidato Bung Karno. Mungkin hanya pidato Gus Dur yang sering ditunggu saat dia menjabat menjadi presiden. Disamping banyak pernyataan kontroversial, pidatonya juga penuh dengan lawakan. Di republik ini, seringkali kita harus berbetah-betah mendengarkan lebih dari dua pidato dalam satu acara seremonial. Sampai sekarang aturan yang berlaku umum dalam hal protokoler perpidatoan adalah dibagi tiga bagian. Ada pidato yang merupakan laporan, kemuadian pidato yang merupakan sambutan dan pidato yang bersifat amanah. Kalau acara-acara keagamaan, seringkali ada pidato yang dinamakan sebagai hikmat, biasanya oleh orang yang dianggap mumpuni dalam satu bidang tertentu.

Pidato yang bersifat laporan biasanya dilakukan oleh ketua panitia acara, isinya yang pertama seharusnya adalah laporan, yang kedua adalah tetap laporan dan yang ketiga juga tetap laporan. Untuk pidato sambutan, yang menjadi aktor adalah tuan rumah. Ada yang disebut tuan rumah teritorial dan ada juga yang disebut tuan rumah fungsional. Misalkan, dalam acara Dharma Canti Nyepi Nasional di Jakarta, tuan rumah fungsional adalah Ketua Umum Parisada, dan tuan rumah territorial adalah Gubernur DKI Jakarta. Amanah merupakan puncah dari segala puncak pidato. Sebagai lakon adalah tamu yang paling ditinggikan. Di republic ini untuk acara-acara yang bersifat nasional, lakon utamanya sudah pasti adalah Presiden RI.

Sampai dengan belum ada perubahan terhadap pakem protokoler yang ada, kita harus dengan iklas dan tabah menjadi pendengar setia dari sejumlah rangkaian pidato. Memang membosankan, tapi itulah namanya pakem. Sambil belajar menjadi pendengar yang baik kita juga bisa berdoa agar raja podium yang bisa menghibur seperti Bung Karno segera lahir.

(Persiapan Dharma Canti Nyepi, Caka 1930, 29 Maret 08)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Mau Marah SINERGI

2 Comments Add your own

  • 1. Moh Arif Widarto  |  March 31, 2008 at 6:26 am

    Ternyata mencari seorang orator ulung dari sekitar 220juta jiwa susah juga ya?

    *garuk-garuk

    Aneh sebenarnya. Bukankah kita ini bangsa yang banyak omong?

    Reply
  • 2. Putu  |  April 1, 2008 at 5:04 am

    Abang,
    bagaimana kalau kita buka club utk mendidik anak bangsa agar bisa jadi orator ulung ?
    hehehehe ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

March 2008
M T W T F S S
« Feb   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: