HaHi

February 18, 2008 at 1:34 am 6 comments

Rumah Taman Ubud hari ini heboh karena sepatu hilang. Seandainya sepatu hilang di masjid, barangkali tidak akan menjadi hal yang luar biasa. Menjadi tidak biasa karena sepatu saya hilang di dalam rumah.  Tidak tanggung-tanggung, digondol tiga pasang sekaligus.  Ketika kejadian sepatu ini saya sampaikan keteman-teman, mereka pada nggak percaya. Pertanyaannya seragam, kenapa malingnya nggak ngambil barang elektronik, kenapa justru sepatu. Ada lagi yang menimpali, ”Jadi di rumah kamu nggak ada TV-nya ya?”

Setelah yakin sepatunya benar-benar hilang, bukan dipinjam atau keselimpet salah naruh, perhatian terarah kepada sang maling. Siapakah yang nekat dan tega masuk kerumah di siang bolong. Padahal ada satu orang anggota rumah yang saat kejadian berlangsung sedang berada di kamar, tepatnya lagi tidur. Kebetulan atau memang sudah direncanakan oleh si maling, Kuat, pembantu sekaligus penjaga rumah yang sangat hobi nonton acara kriminal Buser, pada saat kejadian sedang pergi ke tempat saudaranya di Duren Tiga. Saya sendiri sedang membeli keramik dan kloset kamar mandi yang sudah hancur lebur. Rencananya besok Minggu kamar mandi akan direnovasi setelah tertunda-tunda sejak lama. 

Teman saya berusaha memberi pendapat, nada bicaranya sudah seperti detektif swasta ”Barangkali sepatu kamu hilang untuk tumbal atas proyek perbaikan kamar mandi, daripada tumbalnya nyawa, kan mending sepatu”. Dengan entengnya ditambahkan oleh kawan yang lain, ”Sepertinya jin di kamar mandi kamu pada kabur tunggang langgang, jadi biar larinya cepet mereka pakai sepatu, pas kan kakinya gede-gede ukuran 44”. Jadi ada tiga jin dong kalau begitu sebelumnya di kamar mandi. Maksa dan tidak menghibur sama sekali.

Sepatu-sepatu almarhum tersebut telah menemani saya satu dan dua tahun terakhir ini. Baik sepatu nike, next dan lover yang hilang, semuanya memiliki kesan tersendiri. Keberadaan sepatu-sepatu tersebut memiliki memori tersendiri, disamping kenangan akan kebersamaannya saat melekat di kaki saya. Mereka telah menemani kala saya melatih fisik dan disiplin saat olahraga. Para sepatu almarhum lainnya dengan sabar menyertai langkah-langkah saya  dalam mengarungi pasang surut nya dunia bisnis dan dinamika pergaulan ibu kota. 

Semua kesan dan alasan kenapa saya mencintai ketiga pasang sepatu tersebut, saya utarakan dengan panjang lebar kepada kawan-kawan. Tepatnya sebelum menonton film Jumper di Jakarta Teater.  Tampaknya mereka jadi tersentuh. Salah satu kawan terlihat berempati, dia mengajukan usul, ”Bagaimana kalau kita ledakkan petasan di Plasa Senayan tepat saat kamu beli sepatu disana, biar sepatu barunya nggak kalah kesan dari yang almarhum”. Well, ini ide paling bagus yang hari ini saya dengar, tapi alangkah lebih  bagusnya  lagi kalau jangan ngusul !

Ternyata kawan saya, Soni, juga mengalami nasib sial yang sama hari ini. Dompet dan tentu beserta isi-isinya raib. Kita saat ini lagi mencari 3 orang yang bernasib sial pada hari yang sama. Selanjutnya segera mengajukan ke SBY agar setiap tanggal 16 Pebruari  ditetapkan sebagai Hari Hilang (HaHi) Nasional.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Ulang Tahun TRANSFORMASI PERADAH

6 Comments Add your own

  • 1. i gede blonder  |  February 18, 2008 at 1:19 pm

    wah wah..kasian Putu Opan Pradita kalo begitu. Dia sudah sejak lama mengharapkan akan mendapatkan warisan sepatu nike Bli Mang yang memang bisa menaikkan derajat keren seseorang hingga mencapai 25%. Tiang yakin sang maling pasti seseorang yang ingin tampil lebih keren 25%. Sebab kalo tidak, mengapa dia meninggalkan tv yang notabene harganya lebih mahal dari sepatu yang mungkin saja pernah menginjak kotoran anjing hehe..Namun, diluar masalah sepatu yang hilang digondol maling, tampaknya Bli Mang perlu memperbaharui sistem keamanan di rumah Taman Ubud. Sukur2 sepatu yang digondol, coba kalo nyawa yang digondol, tidak ada lagi blog yang bisa tiang baca dong! Hati2 nggih Bli Mang!!

    Reply
  • 2. Putu  |  February 20, 2008 at 3:31 am

    Abang…

    pertama, saya turut berduka cita atas almarhumah tiga pasang sepatu itu. terus terang, ketiganya keren2 bgt…

    kedua, dari pertama kali datang, saya udah bilang ke anak2, kpn aja maling bisa masuk krn rumah jarang ditutup pintunya atau dikunci.

    ketiga, selain dari banyaknya perkiraan dan praduga dari orang2 sekitar, kepikiran gak kalau ada yg ngerjain — kali aja sih… secara abang baru ulang tahun🙂 (tp yg pasti saya gak ikut2an lho ya…)

    keempat, segala sesuatu yg kita miliki tentunya memiliki kisah tak terlupakan, tp semua kan ada masanya. kalau emang beneran ada maling, semoga aja sepatu itu akan menuntun maling itu melangkah ke rumah abang, dan mengembalikan sepatu2 itu.

    that’s all🙂
    nanti pasti deh akan dapat sepatu yg lebih keren…

    Reply
  • 3. maya  |  February 21, 2008 at 4:14 am

    halah…berlebihan!!cerita sesungguhnya adalah…tidak ada yang berempati terhadap peristiwa tsb. eh…ga ding… itu terlalu ekstrim… hanya SEGELINTIR orang yang berempati….selebihnya merasa bosan atas berita kehilangan yang disiarkan berulang-ulang sepanjang hari itu….
    Yah anggap saja… sebagai pertanda untuk membeli sepatu baru:)

    Reply
  • 4. ubuders  |  February 25, 2008 at 2:32 pm

    Betul sekali, setuju ama komentarnya maymay diatas. ceritanya terlalu bombastis dan superhiperbolis…

    Bahkan, setelah membaca kisah ketiga sepatu itu dari siempunya, baru saya tersentak dan menyadari akan rahasia raibnya mereka bertiga…

    Sepertinya sepatu-sepatu itu baru sadar akan kebodohan mereka selama ini. Kok mau-maunya mereka menjadi alas kaki yang kerjanya diinjak-injak setiap hari. Dua tahun lho, bayangkan!!!
    Masih untung kalo dirawat, lha ini……

    Tapi ini malah menimbulkan pertanyaan baru yang tak kalah peliknya, kenapa baru skarang..? kenapa tidak dari dulu-dulu.??

    tanya kenapa…..???

    A mild

    Reply
  • 5. budi  |  May 27, 2008 at 4:36 am

    sebagai mantan ubuders,
    klo dari dulu yang ilang gak cuman sepatu!
    ada baju ilang
    ada pompa ilang
    ada tv ilang
    ada stereo set ilang
    ada hp ilang…
    tape mobil yang diparkir di depan

    yang penting pintunya sering2 dikunci klo gak ada orang aja…

    salam ubud penuh damai

    Reply
  • 6. Komang Adi  |  May 27, 2008 at 4:51 am

    Mulai saat ini, kalau masuk Ubud harus menggunakan password.
    Macan…?
    Cheers Ubuders

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: