AHIMSA

January 4, 2008 at 10:13 am 2 comments

GandhiAhimsa dapat diartikan sebagai perbuatan tanpa kekerasan atau melukai/membunuh orang lain. Dalam pengertian yang lebih luas, Ahimsa juga diartikan sebagai menghindari semua jenis tindakan yang dapat melukai orang lain, seperti bad vision (pandangan yang jahat), bad hearing (mendengarkan hal-hal yang tidak berfaedah), bad speech (ucapan yang tidak baik), bad thoughts (pemikiran negatif) atau bad action (perbuatan yang tidak  terpuji). Membunuh secara fisik merupakan pelanggaran terhadap Ahimsa, yang juga sekaligus upaya pemusnahan terhadap kekuatan mahadahsyat dari umat manusia, yang kita kenal sebagai karakter.  Theodore Roosevelt  presiden Amerika ke 26 pernah menyatakan, bahwa karakter dalam jangka panjang merupakan hal yang paling menentukan dari seorang manusia, bahkan sebuah negara bangsa sekalipun.

Bagi para pencinta kedamaian,  Kamis 27 Desember 2007 merupakan hari yang begitu kelabu. Seorang tokoh kebebasan yang juga merupakan mantan Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto tewas terbunuh. Dia tertembak saat sedang menyapa para pendukungnya dari mobil kampanye di Rawalpindi Pakistan. Terbunuhnya Benazir menambah duka panjang dinasti Bhutto. Sebelumnya, ayah Benazir Zulfiqar Ali Bhutto meninggal di tiang gantungan setelah dikudeta rezim militer Presiden Zia Ul Haq. Selanjutnya, nasib tragis berulang menimpa saudara laki-lakinya Shah Nawaz dan Murtaza, mereka juga tewas terbunuh. Tradisi politik keluarga Bhutto tampaknya akan diteruskan oleh anaknya yang masih berumur 19 tahun Bilawal Bhutto Zardari. Dia mau tidak mau harus siap memperjuangkan demokrasi dengan taruhan nyawa seperti para pendahulunya. 

Jauh sebelum tewasnya Benazir, dunia berkabung atas terbunuhnya M.K. Gandhi oleh aktivis sayap kanan Hindu Nathuram Godse di luar kuil pada tahun 1947.  Mahatma Gandhi yang begitu gigih mengkampanyekan perjuangan tanpa kekerasan terhadap penjajahan Inggris akhirnya berpulang dengan cara kekerasan. Puluha tahun kemudan, Indira Gandhi dan putranya Rajiv Gandhi juga terbunuh saat menjabat Perdana Menteri India. Tragedi yang menimpa keluarga Gandi  telah menambah sejarah kelam umat manusia di dunia.

Pembunuhan terhadap keluarga Gandhi dan Bhutto satu satunya merupakan upaya bagi pembunuhan karakter.  Dalam diri Mahatma Gandi dan penerusnya, telah tumbuh karakter bebas, anti penjajahan dan mandiri. Karakter-karakter mulia tersebut telah menjalar bagaikan jamur di musim penghujan keseluruh rakyat India. Sampai sekarangpun, rakyat India kita kenal dengan karakter tersebut. Di Pakistan, perang antara yang pro dan anti demokrasi seolah tak kenal henti. Benazir semasa hidupnya menyampaikan, bahwa demokrasilah yang menjadi ganjaran atas seluruh kekerasan dan pembunuhan yang terjadi. Kini Benazir telah berpulang, dia telah meninggalkan semangat kebebasan bagi negeri Pakistan.

Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Indonesia juga hampir bernasib tragis seperti keluarga Gandhi dan Bhutto. Dia pernah mengalami 7 kali upaya pembunuhan. Penjara dan pengasingan bukan sesuatu yang asing bagi seoarang Soekarno. Dijamannya, dia terkenal keseluruh dunia karena perjuangannya terhadap kemerdekaan, bebas dari penjajahan asing dan juga bebas atas penjajahan dalam bentuk ekonomi.  John Perkins dalam buku The Confession of Economic Hitman menuliskan, bahwa Soekarno kala itu telah meyakini kalau modal asing diperlukan hanya ketika Indonesia sudah kuat secara SDM dan sistem, kalau modal asing masuk saat Indonesia belum siap, maka penjajahan moderen dalam bentuk ekonomi akan terjadi di Indonesia.
Atas karakter yang dimiliki oleh Soekarno, kita saat ini dapat tegak berdiri sebagai bangsa yang berdaulat. Bebas dari penjajahan, walaupun belum sepenuhnya  merdeka dalam bidang ekonomi. Belajar dari sejarah, karakter-karakter unggul seperti ahimsa (anti kekerasan), swadesi (merdeka/mandiri), satyagraha (berjuang dijalan kebenaran) sudah seharusnya menjadi prioritas untuk dikembangkan oleh para pemimpin kita dalam rangka mencapai kejayaan Bangsa  Indonesia.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Pulang Untuk Berpulang Berfoto dengan Pak Harto

2 Comments Add your own

  • 1. maya  |  January 7, 2008 at 7:58 am

    SETUJU! mungkin sampai dunia ini berakhir, pelanggaran terhadap ahimsa akan selalu ada. Namun itu dapat menjadi bukti bahwa kebenaran akan selalu digoncang dan pembunuhan terhadap fisik seseorang tidak akan mematikan karakter kuat yang telah di-ejawantahkan orang tersebut kepada masyarakat atau bahkan dunia ini….

    Reply
  • 2. Iyan  |  January 16, 2008 at 11:23 am

    oom I cant understand indonesian can you jut do it in english ??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: