Pulang Untuk Berpulang

December 20, 2007 at 1:26 am 2 comments

Sebagai orang Hindu Bali di perantauan, apakah anda memiliki keinginan untuk pulang atau dibawa pulang ke kampung halaman di saat nanti berpulang menghadap Hyang Widhi? Jika iya, anda memiliki hasrat yang sama dengan saya. Saya juga ingin pulang.

Kampung halaman terutama bagi yang lahir di Bali memiliki romansa tersendiri. Saya menikmati ketika menghabiskan masa kecil bermain di pematang sawah, menyusuri tepian sungai untuk mencari ikan, dan menghirup udara yang aromanya sampai sekarang tidak akan terlupakan. Makin jauh merantau, obsesi untuk suatu saat diakhir perjalanan bisa berada di kampung halaman semakin menguat.

Setiap orang Hindu Bali di perantauan pasti pernah terlintas akan pikiran tersebut, terutama kala menghadiri acara-acara kematian. Tentunya tidak seorangpun bisa menyalahkan obsesi tersebut. Semua orang memang bebas untuk memiliki obsesi, yang jadi persoalan apakah orang lain bisa menerima obsesi kita.

Cerita telah menyebar, bahwa makin kemari masyarakat adat di Bali makin kritis terhadap keanggotaan warganya. Hukuman bagi yang tidak patuh adalah dibuang dari adat. Yang jadi persoalan adalah Hindu Bali begitu susah untuk dapat mengurai antara adat dan agama. Tercabut dari adat berarti memberi membuka pintu masalah bagi pelaksanaan kegiatan beragama.

Orang-orang tua sering kali berpesan, baik-baik menjaga diri dalam pergaulan, sempatkan untuk simakrama serta yang terpenting berpeganglah kepada laku yang baik. Pepatah lama patut selalu dijadikan catatan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama. Karma baik ataupun buruk yang dilakukan selama hidup akan menjadi kenangan dari orang-orang yang ditinggalkan. Kekhawatiran akan tidak bisa pulang saat berpulang seharusnya bisa kita tepis.

Kita bisa bercermin dari Ferdinand Edralin Marcos terkait masalah karmaphala. Mantan Presiden Filipina yang juga merupakan simbol kerakusan penguasa yang sangat kesohor. Dia berkuasa hingga 20 tahun sejak 1965, sampai akhirnya jatuh dari kursinya lewat Revolusi kekuatan Rakyat. Ia dan Isterinya, Imelda Romuldez Marcos menyelamatkan diri ke Hawaii dari amukan rakyatnya. Mantan penguasa Filipina tersebut akhirnya tewas di pengasingan. Bertahun-tahun Imelda Marcos dan keluarga menunggu agar dia bisa membawa jenazah suaminya pulang kembali ke Filipina.

Ketika mayatnya dibolehkan dibawa ke Filipina, Imelda Marcos ingin mendiang suaminya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Fort Bonafico. Pemerintah Filipina berkuasa tidak mengijinkan. Demi sebuah obsesi, Jenazah Ferdinand Marcos harus mengalami hal tragis terkurung dalam kotak kaca dengan mesin pendingin selama bertahun tahun menunggu untuk bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Kaya raya memang bukan menjadi jaminan untuk dengan mudah pulang saat berpulang.

Harus diakui bahwa ikatan dengan adat di tanah kelahiran masih sangat besar terutama ketika kita akan melaksanakan upacara Pitra Yadnya. Masalah seringkali muncul bagi generasi yang telah terlahir diperantauan untuk melaksanakan upacara ini. Bagi mereka yang terlahir diperantauan, kehadiran krematorium di tanah rantau bisa menjadi solusi untuk mempermudah pelaksanaan Pitra Yadnya.

Masyarakat adat di Bali seharusnya juge lentur dalam merespon keberadaam para perantau dan keluarganya. Jika memang para perantau eksistensinya minus dalam kegiatan adat, setidaknya, ada sisi positif yang tetap diberikan sebagai duta tidak langsung bagi tanah kelahiran. Dari para perantau juga nama desa bisa menembus penjuru dunia.

Pada tanggal 23 Agustus 1305, William Wallace pahlawan bangsa Skotlandia dalam perlawanan menghadapi tirani Inggris dihukum mati. Jenasahnya dilarang keras untuk dibawa kembali ke tanah Skotlandia, untuk dipotong menjadi empat bagian lalu ditempatkan di kota yang berbeda di Inggris. Bagi rakyat Skotland, spirit kepahlawanan William Wallace telah menyebar tak terbendung, Sampai sekarang, di berbagai tempat di tanah Skotlandia kepahlawanan William Wallace diabadikan dalam berbagai bentuk monumental. Laku mulia memang bisa menjadi jaminan untuk dinanti oleh siapapun saat berpulang.

Bagi para perantau, berkarya dan berlaku sebaik-baiknya merupakan sebuah keharusan. Dengan karya yang baik, sudah menjadi hukum alam akan mendapat respon yang positif oleh siapapun. Bagi masyarakat adat di Bali juga harus makin jeli memberi ruang bagi warganya dimanapun mereka berada. Ketika fenomena penolakan adat atas warganya yang dinyatakan indisipliner makin meluas, disaat bersamaan pembangunan tempat kremasi juga makin marak. Dikhawatirkan, tujuan luhur dari pembangunan krematorium sebagai alternatif tempat pelaksanaan Pitra Yadnya menjadi bias ketika dikonotasikan sebagai upaya pelarian dari adat.

Entry filed under: non profit. Tags: .

NYANYIAN DHARMA 2, DAN HINDUPUN BEGITU MEMPESONA AHIMSA

2 Comments Add your own

  • 1. maya  |  January 2, 2008 at 9:06 am

    seperti kata pepatah…sejauh-jauhnya bangau terbang, jatuhnya ke pelimbahan juga…(hehe…bener ga sih pepatahnya?), kira2 begitu kali ya intisari artikel ini..
    SETUJU! di tengah pluralisme dan kompleksitas kehidupan manusia jaman sekarang (ceile..), manusia sebagai pribadi butuh ruang untuk pulang-seperti yang penulis tutrkan dalam artikelnya..
    Pulang dalam hal ini merujuk pada kembali ke hal2 dasar dalam kehidupan…keluarga, kampung halaman, persahabatan,…Tuhan;..segala sesuatu yang pada awal mulanya membentuk jati diri kita, yang tanpanya kita menjadi manusia tanpa nurani…
    Seringkali manusia-manusia perantauan lupa akan hal ini.
    Saya yakin penulis mengungkapkan hal ini berdasarkan pengalamnnya…bahwa ‘pulang’ telah menjadikan dia seorang pria seperti sekarang dan memberi dia kekuatan untuk menghidupi hari-harinya dengan lebih baik..
    Jadi….pulanglah…:)

    Reply
  • 2. big sis  |  February 1, 2008 at 5:02 pm

    pulang kampung …….is always best thing🙂 jukut undis, be celeng mekuahin …. sate kambing every birthday … I wish I can go home anytime

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: