Menikah, keputusan terpening dalam hidup

November 21, 2007 at 9:29 am 9 comments

Teman saya baru saja menyelesaikan test interview di sebuah instansi pemerintahan yang lagi naik daun karena paling sering muncul di media masa. Dalam test, satu pertanyaan yang paling membutuhkan waktu terlama dia jawab adalah, mengenai keputusan terpenting yang dia pernah ambil selama hidupnya. 20 detik waktu yang dia butuhkan merenung sampai akhirnya dia jawab, menikah. Dengan nada guyon dia sampaikan ke saya, saat memutuskan untuk menikah, sampai pagi dia tidak bisa tidur.

Tidak semua orang yang saya tanya menganggap menikah menjadi keputusan terpenting. Ada yang menempatkan sebagai keputusan yang hanya penting tapi bukan terpenting, ada juga yang menganggap biasa biasa saja, alami. Tapi satu kesamaan jawaban dari semuanya , menikah tetap merupakan keputusan pening dalam hidup mereka. Begitu memutuskan menikah, banyak sekali kepeningan-kepeningan yang mulai mengikuti keputusan tersebut.

Pening pertama, sudah cocokkah pasangan kita yang akan menemani hidup ini siang malam selamanya. Sukur kalau memang tepat, kalau ternyata tidak cocok, mau bagaimana. Masak kita musuhan selamanya. Untuk cerai seperti kebanyakan selebritis yang muncul diberita infotainment TV, rasanya berat sekali, malu sama saudara di kampung. Banyak yang bilang, setelah menikah ternyata kita baru tahu sifat-sifat buruk pasangan. Yang ini yang paling celaka, kenapa yang buruk baru ketahuan dibelakang, kenapa bukan yang bagus saja. Peningkan ?

Pening ke dua, sudah cukupkah isi dompet kita. Usia-usia mulai membina rumah tangga yang normal berkisar antara 25-30 tahun, bahkan sekarang di kota-kota besar seperti Jakarta batas atas psikologis sudah menjadi 35 tahun. Kebanyakan kita di umur tersebut , sedang baru barunya belajar mencari nafkah. Baik yang bekerja di kantor ataupun berwiraswasta. Ketika memutuskan menikah, langsung pikiran mengkalkulasikan pendapatan dikurangi pengeluaran. Tentunya bagi lelaki, pengeluaran akan bertambah karena sudah mulai harus menanggung anak orang, belum lagi kalau sudah punya anak sendiri.

Jika sewaktu melajang, perhitungan masih surplus, anda bukanlah anggota pening kedua ini. Tetapi jika minus atau impas, silahkan ”join the club” pening ke dua. Orang-orang tua sering menghibur dan memotivasi, bahwa rejeki akan datang dengan sendirinya, istri juga bawa rejeki, anak juga bawa rejeki. Kata salah seorang teman saya , memang benar mereka semua punya rejekinya masing-masing. Dia tidak tahu apa sebabnya sedikit demi sedikit penghasilannya bertambah dan pengeluaran jadi lebih jelas serta terarah, apalagi istri bekerja dan mertua juga kaya, candanya.

Pening ketiga adalah proses menikah itu sendiri. Menikah sekarang ini, lebih tinggi biaya sosial daripada biaya prosesi pernikahan. Sekarang banyak yang merasakan halaman rumah di kampung halaman sudah tidak layak untuk melangsungkan pernikahan. Pilihan diarahkan ke gedung-gedung khusus pernikahan atau hotel yang bisa muat ribuan orang. Misalnya di Jakarta, untuk sewa Balai Kartini atau Balai Sudirman, kita sudah harus bersiap minimal punya tabungan 50 Juta. Belum lagi biaya cetak undangan serta kebaya seragam bagi among tamu. Bagi yang belum punya mobil, biaya sewa mobil buat pengantin, dan yang sudah punya mobil, dirasakan perlu untuk sewa mobil yang lebih mewah kelas Jaguar, BMW atau Mercedes.

Esensi pernikahan sedikit demi sedikit mulai bergeser dari prosesi spiritual untuk menyatukan dua insan baik jasmani maupun rohani, menjadi prosesi sosial. Misalkan kita punya gaji 2 juta sebulan, kira kira harus perlu 3 tahun untuk menabung dan melakukan pengiritan besar-besaran sebelum menuju arena pernikahan. Sebenarnya para lakon pernikahan, sepertinya sepakat untuk melakukan secara sederhana yang panting jalan dan tidak ngutang. Sayangnya banyak juga orang tua dan calon mertua yang punya kehendak berbeda dari para lakon pernikahan.

Pening keempat, adalah kalau keluarga kita memang masih memegang kuat tradisi adat. Banyak sekali prosesi-prosesi adat yang harus kita lewati. Entah itu untuk suku Jawa, Bali, Batak, Bugis dan lain lain semuanya sama. Yang benar-benar pening adalah kalau kawin campuran berbeda suku dan dua-duanya masih kuat memegang adat, plus tidak ada yang mau mengalah satu pun dari pihak keluarga. Untuk menikah, bisa jadi kita akan melewati proses yang panjang berpindah dari satu tempat ketempat lain yang cukup untuk membuat lelah dan mengurangi ”daya gedor” pengantin baru di malam pertama. Belum lagi kalau harus menikah, dan kita yang menikah mendahului kakak/abang kandung sendiri, harus ada bayaran upacara tersendiri untuk ini. Sukurlah adat ini hanya berlaku untuk abang kandung, bisa gawat kalau berlaku juga buat abang kelas ataupun abang satu kost saat bujang.

Terlepas dari segala kepeningan yang mengikuti keputusan menikah, katanya tersimpan kesenangan yang sudah ada didepan mata, jadi pening-pening sedikit tidak apalah, sebentar juga enak.

Selamat menempuh hidup baru Tom.

Entry filed under: non profit. Tags: .

Mengelola Organisasi Nonprofit

9 Comments Add your own

  • 1. Mabellalunarina  |  December 6, 2007 at 2:49 pm

    Pening pertama memang suatu hal yang perlu dipeningkan atau dipikirkan. Tapi pening-pening yang lain itu sifatnya sangat fleksibel kok. Sesungguhnya semua itu kan sifatnya pilihan dan konsekuensinya aja. Kalau memang gak mau mengalami pening-pening yang lain itu, ya tidak usah dipeningkan. Pilihlah jalan yang termudah, misalnya pesta sangat sederhana, adat gak perlu dijalanin sangat mendetil, dsb. Sudahkan, pening-pening itu hilang, paling yang datang pening masalah omongan orang. Tapi kenapa harus peduli?! Secara umum, orang mending punya satu pening aja kan daripada banyak pening. =)

    Reply
  • 2. maya  |  January 2, 2008 at 9:15 am

    there are 2 statements due to marriage…love the one who you marry…or marry the one who you love….
    Which one do you prefer?

    Reply
  • 3. big sis  |  January 9, 2008 at 1:50 pm

    well, just make sure pick the right person , can cook , cleaning the house, have a good job, can produce lots of kiddy, love your parents and your sibling especially me , and your niece and nephew, willing to feed the big as balinese saying for respect your parents ….. question is i have done all of those but my marriage still have big ????? wonder what i did wrong

    btw when time is right i am sure you will make the best choice that benefir not only you but us ,
    honesty and loyalty are based on marriage or any relationship ..

    by the way when is it ????

    Reply
  • 4. blum berencana menikah  |  January 17, 2008 at 5:32 pm

    Bli, kapan menikah? Tak usah berpening-pening lah. Menikah ya menikah aja atuh. :p

    Reply
  • 5. Luhtu  |  February 5, 2008 at 10:39 am

    Abang, lucu banget artikelnya, :d
    emang pening banget ya kalo cowok itu berniat nikah ?🙂
    (sebetulnya berniat ngasi komen serius, tp saya gak bisa setop senyum2 sendiri baca artikelnya — lucu!!)

    ***serius***
    Emang betul kok apa yg disampaiin di atas, emang segalanya butuh pertimbangan, tapi…. abang kapan nikahnya,jgn lama2 ya biar saya gak bayar uang pelangkah :d

    Peace!

    Reply
  • 6. i gede blonder  |  February 18, 2008 at 1:34 pm

    Kalo pening, tinggal minum puyer bintang 7 Bli Mang!! Jangan lama2, Pak Ngah dan Mektut sudah terlalu sering menanyakan “Kapan kakakmu akan menikah De?” Sepertinya mereka perlu tambahan “penghancur kebersihan” dirumah Besang. Btw, kapan Mbok #*%@ dikenalkan ke kami semua? Jadi penasaran..Selama ini cuma dengar kabar angin melulu.

    Reply
  • 7. Putu Ari  |  July 11, 2008 at 9:15 am

    Pernah baca buku “Oka Rusmini”?

    Reply
  • 8. M M  |  August 6, 2008 at 2:09 pm

    ayo bang / bli komang…
    kami mendukungmu…
    *biar Niners yang di Ubud ga perlu bayar uang / denda ngelangkahin..😀

    Reply
  • 9. Darojatun  |  October 29, 2008 at 7:04 am

    terpening atau terpenting? aku nyari yang terpening.🙂 menikah kok dipeningin. terus yang pening pala yang mana nih?

    nggak nikah pening pala bawah
    nikah pening pala atas.🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

November 2007
M T W T F S S
    Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Blog Stats

  • 21,649 hits

%d bloggers like this: