Antar Jemput
April 4, 2009
Nyepi adalah waktunya pulang ke Bali. Sudah jadi pakem dan kerinduan untuk Nyepi di Bali. Selalu menyenangkan saat mesti berangkat ke Airport Soekarno Hatta untuk menuju ke Bali. Perasaan girang akan berkumpul dengan orang-orang yang dicintai mengalahkan lelahnya menembus traffic Jakarta di sore hari.
Menuju Airport juga merupakan momen-momen perpisahan. Disaat saat seperti ini ada juga perasaan sedih. Harus meninggalkan orang yang kita cintai disatu tempat, walaupun akan bertemu lagi dengan orang-orang yang kita cintai ditempat lain. Di Bali, untuk kepulangan Nyepi kali ini saya dijemput oleh kakak yang telah mendahului datang ke Bali untuk Nyepi. Dia sehari harinya berdomisili di Perth. Setelah Nyepi dan harus kembali ke Jakarta, orang tua mengntarkan sampai gate Ngurah Rai, waktunya harus berpisah dengan mereka untuk kembali lagi melanjutkan rutinitas di Jakarta.
Antar jemput ini telah menjadi tradisi kami. Mengantar atapun menjemput orang-orang yang dicintai kala kedatangan dan keberangkatan menuju kota lain merupakan kebahagiaan tersendiri. Demikian pula halnya kalau diantar dan dijemput. Saat perjalanan menuju Bandara Ngurah Rai, terlintas dalam pikiran saya satu pertanyaan: “Jika hidup kita adalah sebuah perjalanan, siapakah yang antar jemput saya saat terlahir dan mati nanti?”
Apakah roh kita juga diantar oleh roh roh yang mencintai kita untuk dilepaskan menuju kelahiran di dunia?
Apakah kita juga akan dijemput oleh mereka mereka yang kita cintai saat nanti waktu kita di dunia sudah habis?
Entry Filed under: Uncategorized. Tags: antar jemput, gate, kehidupan, perjalanan.
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
herbert | April 6, 2009 at 7:03 am
ngeri kali pertanyaannya
aku berpendapat
saat mati nanti
doa-doa orang yang mengalir
yang tentu saja mencintai
ikut menemani kita
pertanyaannya adalah
adakah mereka itu nanti?