Pilih Caleg Yang Ramah Lingkungan
January 19, 2009
Saat ini, seluruh area strategis di Bali telah dijejali dengan gambar diri para calon anggota legislatif (Caleg). Banyaknya partai, mengakibatkan banyak caleg, banyak caleg berarti banyak baliho. Barisan poster ukuran raksasa ini membuat pandangan mata sepanjang perjalanan saya dari airport Ngurah Rai ke rumah di Klungkung menjadi sumpek.
Aneka warna, ukuran, pose dan kostum ditampilkan kepada publik. Di Bali rata-rata para caleg akan berpose dengan pakaian adat Bali. Berpakaian adat dianggap merupakan jualan paten untuk bisa dipilih oleh orang-orang Bali. Ada juga yang cukup mengejutkan dengan memakai pakaian pertunjukan sendratari. Diselidiki lebih detail ternyata caleg ini adalah seorang pemain drama gong (teater tradisional Bali) yang cukup terkenal di jaman dulu. Pose panganjali, dengan kedua tangan dipertemukan didepan dada menjadi favorit. Semuanya berusaha menampilkan kesan mengayomi, aspiratif, cerdas dan tak lupa jujur bebas korupsi. Sebuah baliho caleg di perempatan Pantai Sanur cukup membuat saya tersenyum geli. Lagaknya seorang foto model, seorang caleg wanita berpose sambil menoleh genit kearah belakang. Susah kita membedakan antara niatan mau jadi calon legislatif atau mau ikut kontes putri Indonesia.
Jejalan baliho ini telah membuat pemandangan kota jadi semrawut. Kesan semrawut makin bertambah dengan pola pemasangan yang sembarangan. Ukuran baliho yang tidak standar menyebabkan munculnya kesan tumpang tindih. Kebanyakan baliho dipasang dengan bantuan bambu, sehingga ketika tertiup angin kencang besar kemungkinan bisa roboh. Baliho yang telah reot seperti ini tidak ada yang mengurus sehingga membuat penampilan kota makin kusut. Ada juga memang promosi caleg yang cukup elegan. Dipasang dimedia iklan outdoor. Desain, warna dan keseluruhan tampilan sangat elegan. Terlihat kalau caleg yang satu ini bermodal besar untuk promomsi diri. Sayang hanya satu caleg dari ratusan yang bisa tampil elegan seperti ini, sisanya semua all out asal muncul.
Dengan rentang waktu untuk pemilihan yang masih panjang sampai bulan April, mau tidak mau kita harus bersabar terhadap pemandangan poster yang berjejal merusak pemandangan kota. Tak terbayang, bagaimana semrawutnya kota akibat pesta pemilihan umum dibulan Maret dan April. Atas kondisi ini pemerintah daerah harusnya lebih antisipatif dengan perda. Sebagai kota pariwisata, keindahan lingkungan kota merupakan sebuah keharusan. Sebagai masyarat kita sepertinya harus bersabar sampai musim pilih memilih berakhir, sambil terus memantapkan pilihan kepada caleg yang tidak merusak pemandangan kota. Mari pilih caleg yang ramah lingkungan.
Entry Filed under: Politik. Tags: bali, baliho, caleg ramah lingkungan, caleg. legislatif, kota, pemilu.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
gapsky | January 20, 2009 at 10:41 am
setuju bli, jangan biarkan bali kita rusak oleh poster2 caleg dan partai yang semrawut..
2.
Komang Adi | January 20, 2009 at 11:48 am
Sebagai bentuk kepedulian, mari kita anjurkan keluarga kita di Bali untuk pilih caleg yang peduli keindahan kota.