Politik Pura-Pura
May 14, 2008
Dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilihan Gubernur Bali, kunjungan para kandidat ke pura-pura utama di Bali terlihat semakin intensif. Tujuannya ada dua. Bisa untuk ketenangan spiritual dan bisa pula sekaligus untuk sosialisasi kepada para pinandita (pemimpin spiritual di pura).
Para pinandita pura-pura utama di Bali yang dikenal sebagai kelompok Pura Sad Kahyangan, diakui memiliki pengaruh signifikan bagi sekelompok masyarakat Hindu Bali. Mereka dianggap memiliki teropong supranatural. Mereka juga terpilih menjadi pinandita setelah melalui uji kebersihan hati. Syarat ini menjadi tuntutan utama karena pelayanan yang mereka berikan berhubungan dengan dunia spiritual.
Bicara tentang kebersihan hati, jaman yang makin edan ternyata bisa menggerus keteguhan hati pinandita. Pinandita masa kini bisa juga berlaku komersial. Seorang pinandita pernah memberi saya fasilitas untuk bersembahyang ketempat yang seharusnya hanya boleh dimasuki oleh mereka. Layanan spiritual kelas satu saya dapatkan, karena saya ikut dengan rombongan keluarga pejabat Bali. Bayangkan…ini baru ikut keluarganya, bagaimana kalau saya ikut pejabatnya langsung. Potret ini merupakan kondisi riil pengaruh kekuasaan politik terhadap pura-pura di Bali. Politik dapat dengan mudah mengintervensi pura karena faktor ekonomi. Kesejahteraan para pinandita yang masih dibawah rata-rata merupakan celah masuknya kepentingan individu atau kelompok, termasuk kepentingan para kandidat partai politik.
Bagi para kandidat, dukungan pinandita Khayangan Jagat sudah pasti merupakan target prioritas. Suara pinandita masih diyakini oleh sekelompok masyarakat Bali sebagai suara dewa. Sebagai contoh, seorang calon kandidat Bupati Klungkung mengikuti Pilkada hanya berbekal ’wahyu’ yang didapatkan di Pura Ped Nusa Penida dengan bantuan pinandita. Kondisi ini merupakan cerminan masyarakat Bali dan Indonesia pada umumnya yang masih sangat percaya mistis.
Oleh sastrawan Mochtar Lubis, kepercayaan terhadap mistis ini bahkan telah dinyatakan sebagai salah satu ciri rakyat Indonesia. Karena itu, peta politik di Indonesia masih belum bisa lepas dari pengaruh mistis. Sampai saat ini cerita tentang datangnya Ratu Adil dan Satrio Piningit tak pernah hilang. Satu lagi yang tetap berkembang adalah kepercayaan bahwa nama pemimpin Indonesia harus memiliki unsur suku kata No To No Go Ro. Karena namanya tidak memiliki suku kata tersebut, Habibie, Gus Dur dan Megawati dianggap bukan presiden. Bagi pemercaya mistik, mereka adalah presiden di dunia fatamorgana. Lain halnya dengan SBY, yang memiliki suku kata No dibelakang kata YudhoyoNo-jelas adalah presiden. Semakin dibahas pasti akan semakin ramai, meriah dan bisa dimistikkan kemana- mana. Inilah potret mistis dalam politik Indonesia.
Tidak jauh berbeda, pengaruh pura masih memiliki peran sentral dalam politik masyarakat Bali. Potret Megawati duduk bersimpuh di pura memuat bahasa politik yang nilainya sempurna untuk mengangkat pamornya di Bali. Pikiran orang langsung melayang akan kecintaan Bung Karno terhadap Bali, serta sang nenek yang asli Bali. Potret SBY saat mengikuti acara di Pura Batur juga mendapat simpati luas dikalangan masyarakat Bali. Efek dari potret tersebut, banyak orang yakin jika SBY telah mendapat restu dari para leluhur Bali. Oleh lawan politiknya, SBY justru dianggap tidak mendapat restu dari Ibu Pertiwi, terbukti dari bencana alam yang tidak henti-hentinya melanda tanah air saat pemerintahannya berlangsung.
Kepercayaan mistis dalam dunia politik telah menyebabkan pura sebagai sumbu spiritual di Bali terkena imbas yang kuat. Tingkat spiritual yang masih lemah dan terbatasnya pengertian masyarakat terhadap simbol-simbol rohani memperkuat imbas politisasi pura-pura di Bali. Menjelang pemilihan Gubernur Bali, pakaian adat para pinandita pura-pura di Bali terlihat tidak lagi kumal. Para kandidat dan partai politik berlomba memberikan sumbangan baju adat seragam. Bangunan fisik Pura juga banyak yang berbenah berkat sumbangan dana pembangunan dari para tim sukses. Kini hampir setiap hari wajah para kandidat dalam posisi sedang menyerahkan bantuan kepada pinandita pura terpampang di berbagai media cetak dan elektronik.
Sebaiknya, perhatian seperti ini dilakukan berkesinambungan. Jangan hanya datang di saat musim politik. Pada dasarnya, masyarakat akan memilih dengan menggunakan kata hati, jadi yang berhati tuluslah yang akan dicoblos. Bukan yang memakai politik pura-pura.
Entry Filed under: Politik. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Putu | June 16, 2008 at 8:20 am
dunia terasa makin aneh saja
2.
balibuddy | November 5, 2008 at 2:26 am
semoga ada politik yang di landasi, hati nurani yang tulus….:D